Oleh: supriyanto | Desember 6, 2008

Perkembangan Fisika Medis Indonesia

Fisika medis di Indonesia bukanlah isu baru yang baru didengar. Sejak digulirkannya sebuah program kerjasama Departemen Kesehatan dengan Universitas Diponegoro. Pendidikan kerjasama ini merupakan pendidikan yang mentransisikan dari pendidikan profesional D3 Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) ke pendidikan sarjana. Beberapa lulusan DIV Fisika medis yang hanya satu angkatan ini, banyak yang sudah memasuki atau diambang purna tugas. Tahun 1996, program lanjutan studi dari jenjang diploma III kedinasan Departemen Kesehatan ke program Sarjana Sains di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Diponegoro dilakukan kembali.

Universitas Indonesia dengan pioner Prof. Dr. Djarwani S. Soejoko telah bekerja keras membuka program fisika medis program reguler, dalam artian program ini mendidik program sarjana dengan peminatan fisika medis. Tahun 1998, program sarjana fisika peminatan fisika medis resmi di buka di Departemen Fisika FMIPA Universitas Indonesia dengan 3 staf inti yaitu Prof. Dr. Djarwani S. Soejoko, Dr.rer.nat Mussadiq Musbach, dan Dr. Rachmat W. Adi (Almarhum). Dengan bantuan tenaga dari Badan Tenaga Nuklir Nasiona (BATAN) dan Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, program ini telah menghasilkan sejumlah lulusan sarjana. Tahun 2002, di inisiasi pembukaan program S2 Fisika dengan kekhususuan fisika medis yang disusul dengan perencanaan pembukaan program strata-3.

Penyelenggara program pendidikan fisika medis sekarang sudah berkembang walaupun perlu sebuah konsensus baku Indonesia tentang penyelenggaraan program pendidikan akademik fisika medis dengan jenjang S1, S2, dan S3 dan juga pendidikan profesional. Konsensus ini bukanlah sebuah doktrin bagi yang tua mendikte yang baru bertunas, namun perlu sebuah standarisasi profesional fisikawan medis seperti apa yang ingin dihasilkan untuk mencukupi kebutuhan baik di lingkungan rumah sakit sebagai obyek utama, maupun di lembaga kementrian atau lembaga penelitian.

Tentunya hal ini sangat menggembirakan tidak hanya dari program yang telah di selenggarakan dan menghasilkan lulusan, namun setidaknya program yang telah dikembangkan selama ini telah dimulainya sebuah babak perkembangan fisika medis di Indonesia. Selama ini, tidak hanya program pendidikan saja yang telah dilakukan, pertemuan ilmiah dan konferensi ilmiah baik nasional dan internasional telah diikuti oleh sejumlah fisikawan medis Indonesia sehingga kontribuasi keberadaan fisika medis Indonesia dapat terlihat.

Secara harfiah fisika medis dapat diartikan fisika kedokteran, namun janganlah keliru dengan makna harfiah ini, karena diawali jati diri fisika medis adalah dengan diketemukannya sinar-X oleh fisikawan Wilhem Rontgen yang kemudian telah menjadi sebuah titik tolak dari perkembangan fisika medis itu sendiri. Sehingga fisika medis adalah sebuah aplikasi ilmu fisika yang difokuskan pada dunia kedokteran atau kesehatan. Dengan ini profesi fisika medis itu sendiri tidak hanya yang mempunyai tugas di rumah sakit, namun para ilmuwan baik di universitas maupun di lembaga riset juga berhak menyebut sebagai ahli dalam bidang fisika medis dengan track record publikasi dan penelitian yang telah dilakukan.

Secara administratif, jabatan fungsional fisikawan medis yang bekerja di rumah sakit sudah mendapatkan persetujuan dari menPAN sehingga secara administratif pengakuan keberadaan fisika medis telah diakui. Tugas berat yang dihadapi adalah fisika medis perlu sebuah instrumen atau peralatan untuk bekerja dan tidak semua fasilitas rumah sakit memiliknya.

Inovasi dan pemikiran adalah menjadi sebuah solusi bagaimana kita bekerja membangun sistem fisika medis dengan keterbatasan peralatan dan anggaran. Kreativitas dan invensi menjadi sebuah cara mengatasi keterbatsan bekerja dan berkarya. Pembinaan yang baik tentu saja sangat diperlukan, selain berusaha mencari ilmu baik secara akademik maupun profesional. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: