Oleh: supriyanto | Desember 6, 2008

Sejarah Pembentukan Program Fisika Medis di Universitas Indonesia

Dengan keluarnya jabatan fungsional fisika medis, konsekwensinya program ini akan bersemi di beberapa universitas di Indonesia. Karena dalam perkembangannya fisikawan medis adalah menjadi tenaga kesehatan profesional yang bekerja di rumah sakit. Tulisan ini berusaha seobjektif mungkin akan menguraikan bagaimana sebuah program pendidikan fisika medis di Universitas Indonesia dijalankan. Penulis sendiri merupakan alumnus dari program sarjana fisika dari Universitas Diponegoro dan program pasca sarjana Ilmu Fisika Universitas Indonesia, sekarang sedang menjalani ngangsu kawruh di program doktoral Medical University Vienna, Austria.

Penulis mengenal fisika medis adalah dari teman-teman lintas jalur fisika medis di Universitas Diponegoro sejak 1997. Setelah dengan pertimbangan yang mungkin penuh coba-coba, penulis masuk di dunia fisika medis dengan karya tulis tentang Magnetic Resonance Imaging. Tidak puas dengan mengenal saja, akhirnya penulis meanjutkan ke program pasca sarjana ilmu fisika dengan kekhususan fisika medis dan merupakan angkatan pertama.

Hemmm….. Ada sebuah kronologi panjang yang harus diungkapkan, sebuah program sarjana fisika medis di Universitas Indonesia dimulai. Sebuah dokumen WHO pada tahun 1977 mengungkapkan pada tahun itu, instalasi radioterapi yang diungkapkan di dokumen tersebut adalah RSCM dan RSPP. Dokumen tersebut mengungkapkan bahwa di RSCM hanya ada 1 Medical Physicist yang merupakan staf Departemen Kesehatan yang diperbantukan, sedangkan di RSPP juga ada tenaga Medical Physicist partime. Penulis menyimpulkan bahwa yang disebut sebagai tenaga partime medical physicist di RSPP pada dokumen 1977 adalah Ibu Djarwani Soeharso. Ibu Djar panggilannya, penulis simpulkan sebagai tenaga medical physicist partime yang disebutkan di dokumen WHO tersebut karena melihat CV beliau mulai bertugas sebagai tenaga partime di RSPP sejak 1971.

Sebagai seorang akademisi tentu saja ada sebuah cita-cita bagaimana menyampaikan ilmu yang dimililki ke mahasiswa, namun tentunya dengan sebuah program pendidikan. Sebuah semangat untuk mendirikan program fisika medis tidaklah padam dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi. Dengan merintis kerjasama dengan rumah sakit, BATAN, dan Fakultas kedokteran diawali karena tidaklah mungkin program fisika medis berjalan tanpa akses rumah sakit sebagai tempat praktikum, dan FK dan BATAN menyuplai untuk tenaga pengajarnya.

Tidak hanya dengan modal itu kemudian membuka program, penyedian tenaga pengajar tetap Universitas juga harus dipersiapkan selain fasilitas laboratorium dengan beberapa peralatan dan koleksi buku penunjang. Kerjasama dengan pemerintah Perancis akhirnya mendapat 2 jatah beasiswa S2 fisika medis di Perancis. Akhirnya Dr.rer.nat Mussadiq Musbach dan Rachmat Widodo A, PhD (almarhum) berangkat kembali menempuh program S2 di bidang fisika medis untuk menjadi tenaga pengajar walaupun beliau-beliau ini sudah doktor semua. Setelah itu, Ariyanto H. Leksono berangkat menyusul ke perancis untuk menempuh program S2. Tahun 1998, program fisika medis berjalan dengan bantuan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan FK UI.

Tidak berhenti sampai disitu, program strata dua S2 dirintis untuk mengejar sebuah ketertinggalan standar minum fisikawan medis rumah sakit di dunia internasional yang minimum harus S2. Tahun 2002, dibuka program S2 Ilmu Fisika dengan kekhususan fisika medis dengan 4 orang mahasiswa temasuk penulis. Sekarang ini sedang dirintis untuk program S3 untuk memfasilitasi para tenaga pendidik fisika medis di universitas untuk melanjutkan studi di bidang ini.

Perjuangan Ibu Djar untuk mengembangkan fisika medis dalam skala nasional tidaklah di pandang enteng, untuk menunjang peralatan praktikum dan riset haruslah mencari sumber pendanaan untuk itu. Dengan bantuan BATAN akhirnya mulai 2007 berjalanlah sebuah proyek penguatan fisika medis dalam skala nasional dengan pendanaan dari IAEA. Program yang dikerjakan dalam proyek ini adalah fellowship untuk on job training di RS luar negeri , penambahan peralatan praktikum dan riset, mendatangkan expert, dan scientific visit.

Sebuah program diselenggarakan bukanlah dengan sebuah kongsi sehari bisa jalan sesuai diharapkan, namun dengan persiapan, analisis, dan kerjasama akan membuat sebuah program berjalan dengan baik sesuai dengan koridor akademik dan peraturan perundangan yang mengikatnya.

“Setyo satuhu bekti dening Gusti kang Murbeng Dumadi, tumatapeng netro ngrengkuh kautaman sejati”

Iklan

Responses

  1. Saya alumni pertama program S.1 Fisika/Konsentrasi fisika medik Universitas Hasanuddin Makassar. Saat ini saya bertugas sebagai PNS di RS Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar. Apa ada program beasiswa S2 fisika Medik dalam atau luar negeri, gimana syaratnya .Thanks

  2. Sauadara bareng M Rusdy? Salam. Beasiswa sebagai pegawai departemen kesehatan saya kira lebih baik Saudara lewat PPSDM Depkes. Kalau beasiswa ASEA UNINET anada bisa mengajukan, namun harus sudah s2 dahulu dan umur 26 tahun kayaknya.

    Kalau luar negeri, ada program baru di eropa, silahkan akses di http://staff.blog.ui.ac.id/supriyanto.p untuk melihatnya. Beasiswanya saudara bisa tanya ke Erasmus Mundus.

    Mudah-mudahan bisa membantu

  3. Pak Priyanto yth.
    Salam kenal, saya Susilo dari UNNES Semarang. Kalau tidak salah kita pernah ketemu saat menyampaikan laporan kemajuan Hibah Bersaing tahun 2007 di Jakarta. Sekarang saya sedang ngangsu kawruh tentang radiografi digital untuk diagnose osteoporosis pada a.l. Prof Wahyu (mungkin dulu dosen bpk juga di Undip) via S3 Kedokteran Undip. Kalau bpk ada waktu, bisa menceritakan kemajuan fisika medik di S3 Austria, saya yakin banyak manfaatnya, terutama untuk teman2 yang terlanjur senang dengan bidang fisika medik.
    Kiranya sekian dulu, terima kasih perhatiannya.
    Hormat saya
    Susilo

    • Saya berusaha untuk update informasi perkembangan fisika medis di Austria. Saya masih ingat pak, terima kasih telah mengunjungi blog saya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: