Oleh: supriyanto | Desember 4, 2008

Pengembangan interferometer Michelson?

Interfero Michelson bagi orang fisika pastinya sangat familier, apalagi bagi yang fisika modern nya beberapa kali ngulang, he….. Holografi merupakan aplikasi dari gejala optis ini. Hari ini penulis mendapat sebuah ilmu baru yang merupakan pengembangan dari interferometri ini. Optical Coherence Tomography (OCT) sebuah topik baru yang baru sekali penulis kenal dalam hubungan aplikasi IM dalam bidang medis.

Prinsip desain sama persis dengan IM, hanya berkas yang satu tidak dipantulkan dicermin tapi dikenakan pada sebuah jaringan biologi atau material. Alhasil sistem ini dapat menunjukkan berapakah jarak dari kornea sampai ke retina dan bagian lain di antaranya yang meruapakan penemuan awal dari sistem ini untuk aplikasi medis. Dengan cahaya tampak sebagai media penginduksi, perangkat diagnostik ini dikenal sebagai perangkat non invasive.

Dalam perkembanganya sistem yang sederhana digabungkan dengan teknologi komputer sehingga dengan transformasi Fouriernya mampu menterjemahkan sinyal -sinyal yang diperoleh dalam data irisan. Sistem ini telah berkembang tidak hanya di sistem optik/mata, namun telah berkembang di endoskopi, kedokteran gigi, dan uji material.

Ternyata ada lahan fisikawan medis bisa berperanan dalam bidang kesehatan di Indonesia. Dengan berkarya semua akan melihat sebuah keberadaan, birokrasi bukalah halangan walaupun diperlukan.

Oleh: supriyanto | Desember 2, 2008

Apa yang terbaru dari MR?

Magnetik Resonansi Imejing (MRI) mungkin telah menjadi familiar bagi sebagain masyarakat Indonesia khusunya kalangan di bidang kesehatan. Seperti biasa setiap selasa penulis mengikuti sebuah seminar. Hari ini seminar disampaikan dengan tema ” MR dalam dosimetri radioterapi”.  Thema yang cukup bagus….. Professor Berg, menjelaskan dengan detail bagaimana proses menggunakan BANG gel untuk media dosimetri radioterapi yang secara eksplisit banyak dimanfaatkan untuk dosimetri kanker dengan target berukuran kecil.

Komparasi hasil penelitian dengan BANG gel ini dengan ionization chamber, dan film telah dilakukan. Salah satu keuggulan dosimetri dengan BANG gel ini adalah kita dapat merekonstruksi dosimetri 3 (tiga) dimensi dan dengan resolusi tergantung kemampuan perangkat MR yang digunakan. Oleh karena itu, ini sangat baik sekali untuk verifikasi distribusi dosis pada terpai dengan gamma knife dan IMRT. Walaupun terdapat sebuah kelemahan yang masih dicari sebuah solusi yaitu untuk absolut dosimetri yang masih kalah dengan ionization chamber karena hasil dosimetri absolut BANG gel ini mempunyai ketidakakurasian sekitar +/- 5% yang terpengaruh oleh banyak faktor yaitu komposisi dari gel, perangkat MR dll.

Di akhir penutup seminar Profesor Berg menyampaikan penemuannya sebuah studi yang dilakukan dengan perangkat MR 7T yaitu perangkat ini mempunyai resolusi sangat tinggi sekali dalam orde mikrometer. Sehingga kelainan yang sangat kecil sekali akan terdeteksi dengan perangkat ini dalam orde mikrometer.

Sebuah penelitian fisika medis di MR ini tentunya akan membuahkan sebuah hasil yang dapat digunakan untuk para penderita kelainan/tumor, sehingga dalam fase yang dini sekali dapat terdeteksi. Ayolah fisikawan medis Indonesia berkarya ………..

Oleh: supriyanto | Desember 1, 2008

Magnet pagelaran seni budaya Indonesia di Vienna

austria51Minggu 30 November 2008, Kedutaan Besar RI di Austria dan Slovenia menggelar sebuah acara Indonesian Food festival yang diselenggarakan di Hofburg museum, Vienna. Acara dibuka oleh Direktur Museum dan dilanjutkan sambutan Duta besar RI untuk Austria dan Slovenia Bapak Triyono Wibowo.

Selain menggelar berbagai macam makan khas Indonesia seperti, Nasi goreng, gado-gado, dll juga digelar sebuah pagelaran seni Gamelan slendro Ngesti Budoyo pimpinan bapak F. Soeryanto dan tari saman dari group Gema Puspa Nusantara (GPN).

Gending manyar sewu dikumandangkan setelah sambutan pak Dubes selesai untuk menyambut tamu yang datang, walaupun kebanyakan tamu sudah datang sejak 2 jam sebelum acara di mulai. Setelah gending manyar sewu berakhir, para penari Saman dari GPN melakukan sebuah tarian yang gesit dan serempak sekitar 10 menit yang diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari tamu yang datang. Setelah itu, gending ricik-ricik banyumasan, walang kekek, wilujeng, pepeling dan slendang biru dikumandangkan dengan apresiasi baik sekali dari para pemirsa dengan tepuk tangan yang meriah setiap kali berakhirnya sebuah gending.

Setelah selesai ternyata ada sebuah berita yang sangat menarik yaitu ternyata pengunjung pagelaran seni budaya Indonesia mencapai kurang lebih 500 orang dengan target penyelenggara hanya 100 orang. Hal ini tentunya ada suatu menarik, ada sebuah magnet para penikmat seni untuk meluangkan waktunya datang pada pagelaran seni dan budaya tersebut. Hal ini dikarenakan tidak hanya pengunjung dari Austria, namun dari beberapa negara tetangga di kawasan Eropa. dari sebuah sebuah reklame/iklan di depan museum hanya menyebutkan acara Indonesian Food festival dengan iringan Gamelan, apa yang menjadi magnet penikmat seni disini?

Gamelan bisa diprediksi menjadi sebuah magnet pengunjung untuk melihat sebuah pentas seni budaya dari pulau Jawa ini. Tentu saja ini bukanlah sebuah kesimpulan yang mengada-ada. Bila kita iseng memasukan sebuah kata kunci gamelan atau gamelan Jawa, kita dapat melihat berapa banyak perkumpulan Gamelan Jawa yang ternyata sedang berkembang mekar di Eropa dan Amerika. Hal ini tentu saja menjadi ironi dengan melihat di tanah tempat Gamelan berasal yang seakan akan ditinggalkan pemiliknya. Bukan tidak mungkin nantinya kita akan belajar Gamelan justru dari luar negeri, hal ini tentunya sangat memprihatinkan. Sebagai tambahan, dari beberapa pengrawit atau penambuh/pemain gamelan 3 orang bukan berasal dari Indonesia. Pemain kendang dengan teknik lanjut, Bapak Rainer SCHÜTZ juga merupakan staf pengajar Gamelan di Universität für Musik und darstellende Kunst Graz , Austria.

Sudah sepantasnya kita bisa belajar menghargai seni dan budaya yang kita miliki sebelum seperti klaim Seni reog oleh Malaysia. Walaupun tidak semua orang dipaksakan untuk menghayati sebuah karya seni yang sama, namun setidaknya mengerti karya seni dan budaya yang menjadi sebuah indentitas Bangsa Indonesia.

Cintailah Indonesia kita dengan berkarya dan berbagi dengan sesama.

Oleh: supriyanto | November 27, 2008

Bebas Fiskal Bagi Pemilik NPWP Mulai 1 Januari 2009

Jakarta (ANTARA News) – Ketentuan bebas fiskal bagi pemilik nomor pokok wajib pajak (NPWP) akan mulai diterapkan 1 Januari 2009 dan ditargetkan akan bebas fiskal sepenuhnya mulai 1 Januari 2011.

“Ketentuan bebas bayar fiskal bagi yang punya NPWP mulai 1 Januari 2009 dan diharapkan mulai 1 Januari 2011 tidak ada lagi fiskal. Kita pakai waktu 2 tahun untuk membuat orang mempunyai NPWP,” kata Dirjen Pajak Darmin Nasution di Jakarta, Selasa.

Ketentuan tersebut diatur dalam RUU tentang Pajak Penghasilan (PPh) yang saat ini tengah dalam penyelesaian pembahasan di DPR.

Darmin menyebutkan, selama ini fiskal dikenakan untuk WNI yang pergi keluar negeri namun terdapat banyak pengecualian yang bebas atau tidak dikenakan fiskal keluar negeri.

“Karena banyak pengecualian maka dalam praktik menjadi sulit untuk dilaksanakan sehingga melalui RUU PPh diubah konsepsinya di mana kalau sudah punya NPWP tidak perlu lagi membayar fiskal,” katanya.

Ia menyebutkan, NPWP sebenarnya menggunakan konsepsi keluarga di mana anggota keluarga dapat menggunakan NPWP milik kepala keluarga.

“Jadi istri boleh menggunakan NPWP milik suami, anak di bawah umur 21 tahun boleh memakai NPWP bapaknya, kalau sudah lebih 21 tahun harus punya NPWP kalau tidak dia harus bayar fiskal kecuali dia bisa membuktikan bahwa dia masih menjadi tanggungan orang tua misalnya dengan kartu keluarga,” jelasnya.

Mengenai potensial lost dari pemberlakuan kebijakan itu, Darmin mengatakan, sebenarnya tidak ada karena hilangnya penerimaan fiskal akan diganti dengan penerimaan pajak.

“Pada tahun pertama memang akan ada penurunan penerimaan negara, tetapi pada tahun kedua dan selebihnya kita harapkan dapat lebih banyak melalui pajak,” katanya.

Ia menyebutkan, penerimaan fiskal pada tahun 2007 mencapai sekitar Rp2,5 triliun. ” Tidak apa-apa penerimaan berkurang, tapi kita akan kejar dari pajaknya. Kalau dia tidak masukkan SPT akan kita kejar juga, jadi hilang dari fiskal, kita dapat NPWP-nya,” kata Darmin.

Darmin menyebutkan, jumlah pemilik NPWP saat ini mencapai sekitar 6 juta termasuk pemilik NPWP berbentuk badan usaha sementara khusus untuk pemilik NPWP pribadi mencapai sekitar 4,8 juta hingga 4,9 juta orang. (*)

Oleh: supriyanto | November 25, 2008

Peranan Fisika Medis mengembangkan radioterapi

Radioterapi adalah sebuah teknik terapi bagi para penderita kanker yang cukup populer. Radioterapi telah mengalami teknik radiasi yang berkembang dari sejak pertama kali diperkenalkan sampai saat ini. Indonesia mengenal adanya radioterapi sudah cukup lama dengan didirikannya fasilitas radioterapi di RSCM. Sampai saat ini, tersedia beberapa pusat radioterapi yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia dengan sebagaian besar terpusat di pulau jawa. Dengan perhitungan matematis apakah sudah cukup fasilitas yang ada dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa?

Kembali ke pokok bahasan, radioterapi adalah secara harfiah adalah melakukan sebuah terapi kanker atau tumor dengan sebuah radiasi. Radiasi yang dimanfaatkan pada terapi ini adalah radiasi pengion, yang mempunyai sifat daya rusak terhadap sel makhluk hidup. Dengan daya rusak sel inilah, radiasi pengion dimanfaatkan untuk membunuh sel kanker. Tentunya ada sebuah pertanyaan bagaimana dengan sel jaringan normal ? Ya tentu saja sel di jaringan normal mati juga, namun dari sebuah konsep radiobiologi, respon sel kanker dan normal mempunyai respon yang berbeda terhadap radiasi pengion ini yang dikenal dengan therapeutic ratio. Dengan hasil penelitian inilah, logika pemanfaatan radioterapi menjadi berkembang menjadi teknologi cangging dengan aksesoris yang rumit.

Dalam perkembangannya, teknik radioterapi mengalami teknik radiasi ” pisang goreng” dalam artinya sumber radiasinya tetap dan pasienya yang disesuaikan. Dengan penalaran yang logis akhirnya didesainlah sebuah perangkat pesawat teleterapi dengan teknik pasien tetap dan sumber radiasi yang disesuaikan terhadap pasien. Dengan perkembangan teknologi yang semakin mapan berkembang teknik radioterapi juga berkembang dari konvesional, 3D conformal, IMRT, IGRT, dan teknik dengan desain sumber radiasi yang cukup spektakuler seperti tomoterapi.

Apa sebenarnya yang dibisa dilihat dari perkembangan teknik radioterapi ini? Teknik konvensional ke 3D CRT adalah mengubah pandangan dari teknik radiasi konvensional anterior posterior atau box system yang setidaknya perhitunganya dapat dihitung dengan tangan mejadi keharusan menggunakan fasilitas komputer untuk menghitung dosis radiasi sebelum dilakukan penyinaran pasien. Teknik 3D CRT memdesain sedemikian hingga dosis membentuk distrubusi dosis mengikuti kontur tumor target . Tentu saja perhitungan manual sangat sulit memprediksi ini.

Sekarang sudah menjadi program IAEA yaitu transisi 3D CRT ke Intensity Modulation Radiation Therapy (IMRT), walaupun teknik IMRT sudah diperkenalkan penggunaanya pada tahun 90-an. Apa yang dikembangkan dari teknik ini? IMRT adalah membuat sebuah konsep yang tadinya kita membuat perencanaan berkas radiasi dari beberapa lapangan dan dapat dihitung distribusi dosisnya dibalik menjadi kita menentukan telebih dahulu dosis target dan organ at risk (OAR)-nya kemudian dihitung balik berapakah intensitas radiasi yang harus diberikan pada masing-masing segmen target radiasi yang dikenal dengan invers planning.

Akuratkah perhitungan yang dilakukan dengan komputer? Kita mempercayai bahwa komputer dengan algoritmanya mengeksekusi perintah yang diberikan adalah benar. Namun seperti halnya dalam sebuah pengadilan, vonis benar atau salah haruslah adalah sebuah saksi atau bukti. Oleh karena itu, bergunalah para fisikawan dan ilmuwan mendesain ionization chamber yang dapat menunjukkan berapakah dosis radiasi yang dipancarkan oleh sumber radiasi. Hasil pengukuran dengan instrumen IC dan alat pencacahnya menjadi sebuah saksi dan bukti kebenaran sebuah ekseskusi program komputer.

Dilihat dari semua di atas, peranan para fisikawan dan ilmuwan lain yang mendedikasikan dirinya untuk membangun radioterapi yang aman sangat besar. Aman dalam artian adalah membuat sebuah tatalaksana terapi dengan radiasi dengan tingkat akurasi yang tinggi dan sebisa mungkin menghidari dosis berlebih di jaringan normal dan jaringan/organ beresiko. Para ilmuwan telah berusaha membuat sebuah perangkat, teknik, dan perhitungan dosis yang akurat untuk mencapai tujuan aman.

Ayolah rekan-rekan fisikawan medis di Indonesia, teruslah berkarya……

Oleh: supriyanto | November 24, 2008

Pemandangan unik di negara maju

Sebuah seminar yang menarik, batinku.  Isinya  sih ….. setidaknya penulis sudah lama mengenalnya, namun bahasan yang baru saat ini saya dengar. ” Radioterapi untuk hewan” inilah topik seminar seminar fisika radioterapi di ruang seminar Center for Biomedical Engineering and Physics, Medical University of Vienna Ebene 4L.

Seorang dokter onkologi radiasi khusus hewan dari rumah sakit khusus hewan di Vienna menyampaikan dengan detail bagaimana proses, jenis, dan tatalaksana perlakuan radioterapi pada hewan di institusinya. Institusi ini memiliki pesawat linear accelerator sebagai perlatan untuk produksi radiasi foton dan elektron untuk terapi. Mereka menggunakan peralatan linac karena pesawat linac dapat mengasilkan berkas elektron. Dari sebuah proses diskusi terbesit sebuah kesimpulan alasan mereka memilih linac karena sebagian besar terapi radiasi untuk hewan yang sebagian besar untuk anjing ini adalah menggunakan berkas elektron untuk keberadaan tumor atau kanker yang berada di daerah superficial atau dekat daerah superficial.

Yang lebih mencengankan lagi di eropa sekarang ini setidaknya ada 5 pusat radioterapi untuk hewan, dan diprediksikan pembicara akan semakin berkembang cepat. Dilihat dari pasien saya kira secara hitungan bisnis tidaklah menguntungkan dengan biaya perawatan linac yang cukup mahal. Hal ini diisyaratkan pembicara yang menyebutkan hanya sekitar 30 pasien maksimal.

Yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana rumah sakit ini hidup, tentunya ada sebuah filosofi yang mendasar yaitu menolong makhluk tuhan yang sedang mengalami penderitaan. Hal ini ditunjukkan bahwa walaupun obyeknya adalah binatang, mereka cukup serius dengan standar tatalaksana penyinaran kanker seperti pada manusia. Kerjasama pelayanan fisika medis di rumah sakit khusus hewan itupun sedang dirintis dengan AKH.

Yang dapat menjadi pelajaran bagi kita adalah, sudahkan kita mendirikan pusat radioterapi dengan tujuan utama tadi? Bagaimana kita memiliki rasa ingin menolong kita pada hewan, berbagi sesama manusia kadang-kadang masih gelepotan, ya itulah sebuah kehidupan ……. Cintailah Indonesia kita dengan berkarya dan berbagi dengan sesama.

Oleh: supriyanto | November 24, 2008

Ricik-ricik banyumasan di Perpisahan Pak Dubes

Jumat 21 November 2008 di KBRi Vienna ada acara yang istimewa, setidaknya warga negara Indonesia yang di Vienna berusaha untuk datang di KBRI di tengah guyuran hujan lebat. Acara perpisahan Duta Besar RI untuk Austria dan Slovenia yang sudah mendapatkan amanah baru sebagai Wakil Menlu.

Beberapa acara yang disajikan antara lain tari Saman, Angklung, Kolintang, membaca puisi dan Gamelan. Gamelan slendro yang didaulat menyajikan hiburan untuk para tamu pada saat menikmati jamuan makan menempati urutan pertama. Grup gamelan Ngesti Budaya ini digawangi oleh Ki Soerjanto  dan Ki Tajan menyajikan beberapa gending. Gending untuk menyambut tamu disajikan pertama kali yaitu lancaran manyar sewu yang dilanjutkan gending ricik-ricik banyumasan yang didahului dengan bawa macapat asmarandana banyumasan. Beberapa gending lain juga disajikan karena selain menghibur pada saat perpisahan pak dubes  juga sebagai wahana latihan karena grup gamelan ini didaulat untuk mengiringi acara Indonesian Food festival pada 30 November 2008 di gedung museum Hofburg.

Oleh: supriyanto | November 24, 2008

Kedatangan di Vienna

Setelah sekian lama mengurus proses keberangkatan yang melelahkan di Jakarta, akhirnya pada tanggal 6 Oktober 2008 dapat berangkat tepat waktu. Dengan tiket yang cukup murah, saya dihantarkan oleh Qatar Airways menuju Vienna yang transit dahulu di Singapura dan Doha.

Tanggal 7 Oktober 2008 jam 13.20 waktu Vienna, akhirnya pesawat Qatar yang saya tumpangi mendarat di bandara VIenna.  Perasaan campur aduk, karena baru kali ini ke negeri orang sendirian dan belum bisa bahasa jerman lagi. Akhirnya dengan beberapa kali bertanya ke beberapa orang, sampai juga ke pintu keluar bandara setelah sebelumnya diperiksa tasnya, yah…. sudah pengalaman he…..

Setelah sampai di luar, akhirnya ada seseoarang membawa tulisan nama, dengan kata lain saya dijemput. Alhamdulillah dalam hati, karena seperti orang yang buta huruf di kota dan ada orang yang berbaik hati membantu untuk menghantarkan sampai alamat. Terima kasih Dr. Figl. Danke Sir.

Dengan membeli tiket U-bahn, kami menuju OeAd karena ada urusan super penting yaitu penolong hidup di Vienna bulan pertama harus jemput.  Setelah bertemu Pembimbing dulu di AKH, akhirnya saya sampai di kantor OeAD. Urusan administrasi  tidak berhenti sampai di situ, hari berikutnya harus mengurus ke kantor catatan sipil, imigrasi dll.

Oleh: supriyanto | November 23, 2008

Sugeng Rawuh!

Selamat Datang, terima kasih telah mengunjungi blog saya.

” Ajining Diri soko lathi, Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”

« Newer Posts

Kategori